Hama-Penyakit-Cabai

8 Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Cabai

Hama Penyakit Cabai - Tanaman cabai merupakan komoditas hortikultura yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, cabai juga memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin diantaranya vitamin A, vitamin B1, vitamin C, kalori, protein kalsium, lemak dll. Kebutuhan konsumsi cabai di Indonesia setiap tahun sebesar 4 kg per kapita baik dikonsumsi segar atau menjadi produk olahan. Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 1.500 mdpl.

     Tanaman cabai termasuk kelompok volatile food atau kelompok komoditas pangan pembentuk inflasi yang berkontribusi besar nilainya dibandingkan dengan komponen harga yang diatur oleh pemerintah. Harga cabai dipasaran sangat fluktuatif, bergantung pada permintaan dan penawaran cabai di pasar, misalnya pada momen Hari Raya. Selain itu, kondisi cuaca dan serangan hama penyakit pada tanaman cabai memengaruhi jumlah penawaran cabai. Dampak kerugian akibat serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan tanaman cabai gagal panen, penurunan jumlah produksi tanaman, pertumbuhan tanaman terganggu, serta menurunkan nilai ekonomis tanaman cabai. Oleh karena itu dalam proses budidaya tanaman cabai, petani perlu mengetahui jenis hama, penyakit serta gejala yang ditimbulkan sehingga petani dapat melakukan tindakan pengendalian secara tepat.

Berikut JENIS HAMA DAN PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN CABAI

1. Lalat Buah

Gejala serangan hama lalat buah pada cabai

sumber : Balai Penelitian dan pengembangan pertanian 

Kementerian pertanian

     Buah cabai yang terserang hama lalat buah (Bactrocera) memiliki gejala titik hitam pada bagian pangkal buah dan terdapat belatung jika dibelah sehingga menyebabkan buah cabai busuk. Kualitas buah cabai yang terserang hama ini akan menurun sehingga tidak layak untuk dipasarkan. Petani dapat melakukan pengendalian lalat buah dengan cara menggunakan perangkap metil eugenol atau Petrogenol sebanyak 1 ml/perangkap. Pemasangan perangkap ini dilakukan sebulan sebelum musim tanam. 

2. Kutu Kebul

Hama Kutu Kebul 

Sumber : Daquagrotechno.org

    Gejala serangan hama kutu kebul (Bemisia tabacii)berupa becak daun nekrosis, sel-sel dan jaringan daun rusak. Kutu kebul dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada saat populasinya tinggi. Kutu kebul mengeluarkan cairan embun madu yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan embun jelaga. Keberadaan embun jelaga yang berwarna hitam pada permukaan daun cabai dapat menghambat proses fotosintesis. Petani dapat melakukan pengendalian dengan cara memilih benih cabai sehat dan tahan terhadap hama. 

3. Kutu Daun

Kutu-Daun

Hama Kutu Daun Aphididae

SUMBER : cANDIDEGARDEN.COM

     Daun cabai yang terserang kutu daun (Aphididae) akan mengerut, mengeriting, pertumbuhan tanaman akan terhambat dan kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan embun madu. Embun madu menarik datangnya semut dan embun jelaga. Umumnya hama kutu daun menyerang tanaman cabai pada musim kemarau. Kutu daun juga dapat mengeluarkan embun madu sebagai media pertumbuhan embun jelaga. Petani dapat mengendalikan hama kutu kebul dengan cara menanam tanaman perangkap seperti jagung, menggunakan pestisida organik serai wangi dan pestisida sesuai dengan dosis anjuran.

4. Penyakit Antraknosa

Gejala Penyakit Antraknosa

Sumber : Bumikita.com

     Penyakit antraknosa atau lebih dikenal dengan “patek” disebabkan oleh cendawan Colletotrichum. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabai pada fase pembibitan hingga fase dewasa. Gejala serangan penyakit patek pada fase pembibitan menyebabkan kecambah layu saat disemai. Pada fase dewasa, penyakit ini menyebabkan mati pucuk, terdapat luka berbentuk konsentris pada buah cabai. Penyakit patek termasuk penyakit yang dapat ditularkan melalui benih dan percikan air  sehingga penyakit ini berkembang dengan cepat pada musim hujan.

     Petani dapat mengendalikan penyakit patek dengan cara :

  • Melakukan pemupukan untuk meningkatkan daya tahan tanaman cabai sehingga tanaman tetap berproduksi walaupun terserang virus kuning
  • Menanam varietas cabai yang tahan penyakit
  • Melakukan sanitasi lingkungan dan menggunakan mulsa plastik
  • Menanam tanaman pembatas seperti jagung dan tagetes (bunga tahi ayam).

5. Penyakit Virus Kuning

Gemini-Virus

Gejala virus kuning
sumber  : plantix

     Gejala khas penyakit virus kuning (Gemini Virus)  yaitu helai daun cabai berwarna kuning, tulang daun menebal, daun menggulung ke atas dan menyebabkan tanaman cabai kerdil dan tidak berbuah. Penyakit ini sangat merugikan karena mampu mempengaruhi produksi buah cabai.

     Petani dapat mengendalikan penyakit virus kuning dengan cara :

  • Melakukan pemupukan untuk meningkatkan daya tahan tanaman cabai sehingga tanaman tetap berproduksi walaupun terserang virus kuning
  • Menanam varietas cabai yang tahan penyakit
  • Melakukan sanitasi lingkungan dan menggunakan mulsa plastik
  • Menanam tanaman pembatas seperti jagung dan tagetes (bunga tahi ayam). 

6. Bercak Daun

Bercak-daun

Bercak daun cercospora

SUmber : Plantix

     Gejala penyakit bercak daun (Cercospora) pada cabai mulai terlihat dari munculnya bercak bulat berwarna cokelat pada daun. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabai pada fase persemaian dan lebih dominan menyerang tanaman tua. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman cabai kehilangan semua daunnya sehingga mempengaruhi produksi buah. Penyakit bercak daun berkembang cepat pada musim hujan. Petani dapat melakukan pengendalian penyakit bercak daun dengan cara memusnahkan tanaman yang terinfeksi/terserang dan menggunakan fungisida sesuai dengan dosis anjuran.

7. Layu Fusarium

Layu-Fusarium

Gejala layu fusarium

Sumber : Bumikita.com

     Daun kekuningan dan ranting mati berwarna cokelat merupakan gejala khas penyakit layu Fusarium. Penyakit ini mampu berkembang dengan cepat pada saat kondisi tanah yang sangat lembab sehingga menyebabkan batang tanaman cabai membusuk. Selain tanaman cabai, penyakit layu Fusarium  juga dapat menyerang tanaman tomat, mentimun, bawang merah, dll.

    Petani dapat mengendalian penyakit layu fusarium dengan cara :

  • Membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma, membalikkan tanah agar terkena sinar matahari.
  • Melakukan pemupukan berimbang
  • Tumpang sari tanaman cabai dan tomat
  • Menggunakan mulsa plastik di dataran tinggi dan jerami di dataran rendah untuk mengurangi serangan penyakit terutama pada musim hujan.
  • Mengurangi penggunaan pupuk yang memiliki kadar N tinggi karena akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang penyakit ini.
  • Menggunakan fungisida sesuai dosis rekomendasi sebagai alternatif pengendalian terakhir.

8. Layu Bakteri

Layu-Bakteri

Gejala Penyakit Layu Bakteri pada Batang Cabai

SUmber : biovision.org

    Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia. Gejala khas penyakit ini yaitu daun layu pada tanaman muda. Setelah beberapa hari gejala tersebut berkembang sehingga menyebabkan semua daun pada tanaman cabai layu. Perbedaan penyakit layu bakteri dengan layu fusarium yaitu terdapat cairan koloni bakteri pada batang dan akar yang dipotong dan dicelupkan ke dalam air. Serangan penyakit pada buah cabai mengakibatkan buah menjadi kuning dan busuk. Penyakit layu bakteri berkembang cepat pada musim hujan. Petani dapat mengendalikan penyakit layu bakteri dengan melakukan kultur teknis pergiliran tanaman, menggunakan benih sehat, mencabut tanaman yang terinfeksi dan menggunakan bakterisida sesuai dengan dosis anjuran sebagai alternatif pengendalian terakhir. 

sumber : 

http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/90158/Mengenal-Hama-Tanaman-Cabe/

Duriat AS, Gunaeni N. Wulandari. 2007. Penyakit Penting pada Tanaman Cabai dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang. 

Hama dan Penyakit pada Tanaman Cabai Serta Pengendaliannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian . 

 

Bagikan

1 thought on “8 Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Cabai”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *